Ada kalimat yang pendek, tetapi rasanya seperti jangkar. Kalimat itu sering dilantunkan pelan, namun diam-diam membetulkan letak harap di dalam dada: ما لنا مولى سوى الله. Artinya sederhana, tetapi dalam: tidak ada bagi kita pelindung selain Allah. Kalimat ini bukan sekadar bait yang indah; ia seperti tangan yang menepuk pundak tanpa suara, lalu berkata, “Tenang, sandaranmu bukan yang mudah pergi.”

Kadang hidup tidak datang dengan tamparan. Ia datang dengan cara yang lebih halus: mengurangi. Mengurangi tenaga, mengurangi kabar baik, mengurangi kemampuan untuk terlihat “baik-baik saja.” Lalu, tanpa kita sadari, ia juga mengurangi keramaian. Yang dulu mudah menyapa mulai jarang muncul, yang dulu hangat mulai hemat kata, dan yang dulu terasa dekat pelan-pelan menjauh tanpa perlu alasan. Tidak semua itu karena orang buruk; banyak yang tidak tahu harus bersikap apa ketika melihat kesulitan. Sebagian diam karena takut salah kata, sebagian menjauh karena lelah dengan urusan sendiri, dan sebagian lagi memang hanya sanggup hadir saat hidup kita terang.

Di titik seperti itu, kalimat ini berubah fungsi. Ia tidak lagi sekadar nyanyian, tetapi menjadi napas. ما لنا مولى سوى الله bukan kalimat untuk memusuhi manusia, bukan juga ajakan memutus silaturahmi, melainkan cara menata sandaran agar harap tidak ditaruh di tempat yang rapuh. Manusia bisa lupa, keadaan bisa berbalik, dan rencana bisa jatuh satu per satu, tetapi Allah tidak pernah benar-benar menjauh; ketika semua pintu terasa tertutup, pintu doa tetap terbuka, meski kadang kita yang terlalu lelah untuk mengetuknya.

Yang indah, kalimat ini tidak hanya menenangkan saat jatuh, tetapi juga menjaga saat kita terangkat. Sebab ujian yang paling halus sering datang ketika rezeki kembali longgar, ketika pintu-pintu terbuka, ketika orang-orang kembali ramah. Di sana, kalimat ini seperti rem yang lembut: agar kita tidak lupa rasanya sempit; agar tangan tidak kikir setelah pernah kosong; agar hati tidak keras setelah pernah sepi; agar kita tidak menjadi orang yang hanya hadir saat terang, lalu menghilang saat redup. Jika dulu kita pernah menangis diam-diam karena merasa sendirian, semoga kelak kita tidak menjadi alasan orang lain menangis dengan cara yang sama.

Pada akhirnya, “Maulan Siwallah” bisa dibaca sebagai adab hidup yang sederhana: syukuri siapa pun yang datang, doakan siapa pun yang pergi, dan jangan hancurkan hatimu hanya karena manusia tidak mampu menetap. Sandaran paling aman sejak awal memang Allah. Dan jika gelisah sedang ramai hari ini, kamu bisa merasakan bait-baitnya lewat video ini: Bait-Bait yang Menghapus Gelisah dan Mendekatkanmu pada Allah https://youtu.be/-NfwhsAOhHM?si=YMZ5Vwe6AJyS4iAy