Ada hari-hari ketika mulut kita kuat, tapi hati kita lelah. Di hari seperti itu, kadang kita tidak butuh ceramah panjang. Kita hanya butuh satu tempat kecil, untuk kembali jadi manusia, yang mengaku, bahwa dirinya memang rapuh. Doa itu bukan hanya kalimat. Doa adalah cara kita pulang. Kita datang dengan banyak hal: rasa takut yang tidak sempat kita jelaskan, rindu yang tidak tahu harus ditaruh di mana, dan harapan yang sudah hampir kita lepaskan. Lalu kita duduk. Pelan. Kita belajar lagi bernapas. Kita belajar lagi percaya. Karena Allah tidak menunggu kita sempurna. Allah menunggu kita kembali. Dan sering kali, yang paling berat bukan masalahnya, melainkan rasa “sendiri” saat memikulnya. Maka jangan malu dengan air mata. Ada air mata yang tidak menjatuhkan, justru mengangkat. Sebab ada tangis yang lahir dari iman: tangis yang berkata, “Ya Allah, aku tidak sanggup tanpa Engkau.” Kadang doa tidak langsung mengubah keadaan. Tapi doa mengubah kita. Yang tadinya panik, jadi lebih tenang. Yang tadinya ingin menyerah, jadi mampu bertahan satu hari lagi. Yang tadinya menyalahkan semuanya, jadi bisa menerima, bahwa hidup memang punya ujian, dan kita tidak ditinggalkan. Kalau hari ini kamu sedang sempit, cukup lakukan ini: Berhenti sebentar. Tarik napas. Letakkan bebanmu di hadapan Allah, meski dengan bahasa yang sederhana. Karena doa tidak butuh kata indah. Doa butuh hati yang jujur. Dan jika kamu tidak tahu harus meminta apa, mintalah satu hal yang paling aman: “Ya Allah, perbaiki hatiku. Kalau hatiku baik, semua langkahku akan lebih baik.” Malam ini, atau kapan pun kamu membaca ini, semoga kamu ingat: Allah itu dekat. Lebih dekat daripada yang kita kira. Lebih lembut daripada yang sering kita bayangkan. Lebih tahu luka kita, daripada kita sendiri. Maka peluklah harapan. Jangan buru-buru putus. Sebab bisa jadi, yang kamu kira terlambat, ternyata sedang disiapkan. Yang kamu kira ditolak, ternyata sedang diarahkan. Yang kamu kira hilang, ternyata sedang diganti. Amin.