Budaya yang Ditawar Politik
Ada hal yang kadang kita salah sangka.
Kita mengira budaya itu hanya tari, pakaian, dan upacara. Padahal budaya adalah cara sebuah masyarakat bernapas. Cara mereka bercanda, marah, berdamai, dan memuliakan yang tua. Budaya adalah “rasa bersama” yang lama-lama jadi identitas.
Lalu politik datang, membawa panggung.
Bukan untuk selalu merusak—tapi sering untuk memakai. Karena budaya itu kuat. Ia punya akar, punya emosi, punya massa. Dan di zaman di mana perhatian adalah mata uang, budaya adalah banknya: tabungan yang bisa dicairkan kapan saja.
Maka jadilah budaya sering ditawar.
Ditawar untuk jadi slogan. Ditawar untuk jadi atribut. Ditawar untuk jadi latar kampanye. Seolah-olah cukup memakai kain tradisi, lalu otomatis paham penderitaan orang kecil. Seolah-olah cukup menempelkan simbol, lalu otomatis punya moral.
Di titik ini, kita perlu jujur.
Politik tanpa budaya adalah mesin tanpa rem: kencang, bising, dan berbahaya. Tapi budaya tanpa kewaspadaan bisa jadi karpet merah: indah, namun mengantar siapa saja masuk ke ruang kuasa.
Karena tidak semua yang memuji budaya benar-benar mencintainya.
Sebagian hanya tahu: budaya itu alat pengikat. Dan ketika masyarakat sudah terikat, arahannya tinggal sedikit.
Ada tanda-tandanya.
Pertama, ketika budaya dipersempit jadi “kostum.” Nilai dan akhlak sosialnya dibiarkan mati, yang disisakan hanya tampilan.
Kedua, ketika budaya dipakai untuk membelah. Kita vs mereka. Asli vs pendatang. Tradisi vs “yang tidak sejalan.” Padahal budaya yang sehat selalu punya ruang untuk saling belajar.
Ketiga, ketika kritik dianggap penghinaan. Padahal budaya yang dewasa tidak takut ditanya. Ia hanya takut dilupakan.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Kita mulai dari satu sikap kecil: jangan mudah terbius oleh simbol.
Kita hormati budaya, tapi kita tetap cek perilaku.
Kita cintai tradisi, tapi kita tetap ukur kebijakan.
Karena budaya itu bukan hanya “yang kita warisi.”
Budaya juga “yang kita pilih untuk teruskan.”
Jika politik ingin meminjam budaya, biarlah.
Tapi budaya harus tetap punya martabat.
Tidak dijadikan topeng.
Tidak dijadikan tiket.
Tidak dijadikan alat untuk menutup kegagalan.
Pada akhirnya, budaya yang kuat bukan budaya yang paling sering dipentaskan.
Melainkan budaya yang paling sering dipraktikkan: adab dalam berbeda, malu saat zalim, dan berani saat benar.
Dan kalau suatu hari politik kembali menawar budaya,
semoga masyarakat tidak menjualnya murah.
Karena harga sebuah identitas tidak pernah bisa dibayar dengan janji.