Agar Tak Lupa
Ada masa dalam hidup, ketika Allah seolah menurunkan kita pelan-pelan.
Bukan untuk mempermalukan.
Bukan untuk membuat kita hancur.
Tapi untuk mengajar, dengan cara yang tidak bisa diajarkan oleh buku.
Di atas, kita sering lupa.
Lupa rasanya menahan lapar.
Lupa rasanya membuka dompet, lalu menutupnya lagi.
Lupa rasanya menunggu kabar yang tidak pernah datang.
Lupa rasanya meminta tolong, tapi yang datang justru sunyi.
Lalu Allah turunkan kita.
Ke titik yang membuat dada sesak, tapi hati mulai jujur.
Kita mulai ingat.
Bahwa ada hari-hari ketika uang terasa seperti benda langka.
Bahwa ada malam-malam ketika kita menelan air putih, lalu pura-pura kenyang.
Bahwa ada masa ketika tidak ada satu pun yang benar-benar peduli.
Bukan karena orang jahat,
tapi karena hidup memang membuat sebagian orang sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Dan di fase itu, kita melihat pemandangan yang pahit.
Orang yang dulu ramai, tiba-tiba diam.
Yang dulu dekat, pelan-pelan jauh.
Yang dulu memuji, mendadak lupa nama.
Sakit, tentu.
Tapi anehnya, di situlah kita belajar.
Bahwa sandaran manusia itu rapuh.
Hari ini ada, besok bisa hilang.
Hari ini menepuk, besok bisa menuding.
Lalu Allah ajarkan satu pelajaran yang paling mahal:
jangan taruh seluruh harap pada makhluk.
Karena saat semuanya menjauh,
ternyata Allah tidak pernah pergi.
Di bawah, doa jadi lebih jujur.
Air mata jadi lebih bersih.
Kepala yang dulu tinggi, mulai menunduk tanpa disuruh.
Kita akhirnya mengerti:
yang membuat kita kuat bukan banyaknya orang,
tapi dekatnya kita kepada Allah.
Dan ketika nanti Allah angkat kita kembali,
kita akan membawa bekas luka itu sebagai kompas.
Agar saat di atas, kita tidak jadi orang yang lupa diri.
Agar saat rezeki longgar, kita ingat rasanya sempit.
Agar saat piring penuh, kita ingat pernah kosong.
Agar saat hati lapang, kita ingat pernah terkunci.
Supaya kita tidak menertawakan yang sedang kesulitan.
Supaya kita tidak meremehkan yang sedang jatuh.
Supaya kita tidak memandang rendah orang yang sedang mencari jalan pulang.
Karena kita pernah di sana.
Maka jika hari ini kamu sedang terpuruk,
jangan buru-buru mengira kamu dibuang.
Bisa jadi kamu sedang dibentuk.
Sedang dicuci.
Sedang dipeluk, tapi caranya tegas.
Allah kadang mengosongkan tangan kita,
agar kita tahu cara meminta.
Allah kadang mengurangi yang ramai,
agar kita tahu siapa yang tulus.
Allah kadang menutup pintu-pintu,
agar kita sadar: pintu yang paling aman adalah pintu-Nya.
Dan ketika kamu kembali berdiri,
ingat satu hal ini:
jangan jadi orang yang dulu membuatmu menangis.
Jadilah orang yang jika punya, ia mengerti.
Jika kuat, ia menolong.
Jika berhasil, ia merangkul.
Karena di bawah, kita belajar menjadi manusia.
Dan di atas nanti, kita diuji:
masih ingatkah kita, pelajaran dari bawah itu?
Semoga Allah tidak hanya mengangkat derajat kita,
tapi juga menjaga hati kita.
Agar rezeki tidak membuat kita sombong.
Agar sukses tidak membuat kita lupa.
Agar bahagia tidak membuat kita menutup mata dari orang-orang yang masih berjuang.
Amin.