Aku pernah menulis banyak hal tentang kamu,
tapi tidak semuanya kuberani kirim.
Ada kalimat yang terlalu jujur untuk diletakkan di chat,
ada rasa yang terlalu rapuh untuk dititipkan pada sinyal.
Kadang aku ingin mengatakan, “Aku rindu,”
tetapi aku takut kata itu terasa terlalu ringan,
padahal dadaku berat.
Rindu versi orang dewasa itu aneh:
tidak banyak drama, tapi diam-diam menempel;
tidak selalu minta dibalas, tapi berharap dibaca.
Aku suka cara kamu hadir tanpa banyak suara.
Kamu tidak memaksaku jadi siapa-siapa.
Kamu membiarkanku pulih tanpa menertawakan retakku.
Dan itu… jarang sekali.
Kalau aku boleh meminta satu hal,
aku ingin kita tidak saling menguji.
Aku tidak ingin cinta ini jadi kompetisi:
siapa yang lebih butuh,
siapa yang lebih kuat,
siapa yang lebih kebal.
Aku ingin cinta ini jadi tempat aman,
tempat kita bisa jujur tanpa takut dihukum oleh kesalahpahaman.
Aku tidak butuh kamu selalu ada di sampingku.
Aku hanya butuh kamu tidak pergi
saat aku sedang sulit menjadi menyenangkan.
Karena ada hari-hari ketika aku tidak punya apa-apa
selain niat baik dan sisa tenaga.
Dan kalau suatu saat kamu bertanya,
“Apa yang kamu cari dalam cinta?”
aku akan jawab pelan:
“Tempat pulang yang tidak membunyikan alarm
setiap kali aku lelah.”
Malam ini aku tidak akan banyak berjanji.
Aku hanya ingin bilang:
Jika kamu memilih bertahan,
aku juga akan belajar menjaga.
Jika kamu memilih pelan, aku akan ikut pelan.
Kita tidak harus sempurna.
Kita hanya perlu saling menenangkan.
Karena aku sadar…
yang paling romantis bukan kata-kata manis,
melainkan pilihan kecil yang diulang setiap hari:
tidak menyerah pada orang yang kita cintai.
Baca juga perjalanan saya sebagai penulis asal Sumenep.