Di ujung malam, ada namamu.
Bukan karena aku sengaja mengingat,
tapi karena hatiku
tidak punya tombol untuk tidak peduli.
Aku mencintaimu dengan cara yang pelan—
tanpa banyak suara,
tanpa banyak tuntutan.
Hanya keinginan diam-diam
agar kamu baik-baik saja.
Kalau kamu lelah,
aku tidak mau jadi orang yang menambah berat.
Aku mau jadi tempat aman,
tempat kamu bisa bernapas lagi.
Aku tidak selalu pintar menenangkan,
tapi aku akan tetap tinggal.
Karena ada cinta
yang tidak pandai bicara,
tapi pandai menjaga.
Dan kalau kamu tidak tahu harus cerita apa,
tidak apa-apa.
Cukup ada.
Biar aku yang menyebut namamu pelan
di ujung malam.
Baca juga perjalanan saya sebagai penulis asal Sumenep.