<p>
Di tengah hiruk langkah menuju ibadah,
ada ruang kecil untuk menulis.
Bukan untuk mengejar kata,
tetapi untuk menyimpan makna yang tidak ingin hilang.
</p>

<p>
Saya menulis di sela perjalanan,
mengabadikan rasa yang hadir di Tanah Suci,
dalam bentuk yang sederhana namun jujur.
</p>

<p>
Dari sanalah Renung Aksara lahir,
sebagai ruang untuk pulang melalui kata.
</p>

<p>
Ditulis oleh <strong>Ali Muhsi Kemal</strong>,
penulis dan muthawwif di Makkah.
</p>