Ada hari-hari ketika mulut kita kuat,
tapi hati kita lelah.

Di hari seperti itu, kita tidak butuh banyak nasihat.
Kita hanya butuh satu tempat kecil—
untuk kembali jadi manusia,
yang berani mengaku:
“Aku rapuh.”

Doa itu bukan hanya kalimat.
Doa adalah cara kita pulang.

Kita datang membawa banyak hal:
rasa takut yang tak sempat dijelaskan,
rindu yang tak tahu harus diletakkan di mana,
harapan yang hampir kita lepaskan.

Lalu kita duduk. Pelan.
Belajar lagi bernapas.
Belajar lagi percaya.

Karena Allah tidak menunggu kita sempurna.
Allah menunggu kita kembali.

Dan sering kali, yang paling berat bukan masalahnya,
melainkan rasa “sendiri” saat memikulnya.

Maka jangan malu dengan air mata.
Ada air mata yang tidak menjatuhkan—
justru mengangkat.

Ada tangis yang lahir dari iman,
yang berbisik:
“Ya Allah, aku tidak sanggup tanpa Engkau.”

Kadang doa tidak langsung mengubah keadaan.
Namun doa mengubah kita.

Yang tadinya panik, jadi lebih tenang.
Yang tadinya ingin menyerah, jadi mampu bertahan satu hari lagi.
Yang tadinya menyalahkan segalanya, jadi mampu menerima:
hidup memang punya ujian,
dan kita tidak ditinggalkan.

Kalau hari ini terasa sempit,
coba lakukan ini:

berhenti sebentar,
tarik napas,
letakkan bebanmu di hadapan Allah—
meski dengan kata sederhana.

Karena doa tidak butuh bahasa yang indah.
Doa hanya butuh hati yang jujur.

Dan jika kamu tidak tahu harus meminta apa,
mintalah satu hal yang paling aman:

“Ya Allah, perbaiki hatiku.
Jika hatiku baik, langkahku akan ikut membaik.”

Malam ini—atau kapan pun kamu membaca ini—
ingatlah:
Allah itu dekat.
Lebih dekat daripada yang kita kira,
lebih lembut daripada yang sering kita bayangkan,
lebih tahu luka kita daripada kita sendiri.

Maka peluklah harapan.
Jangan buru-buru putus.

Bisa jadi yang kamu kira terlambat
sedang dipersiapkan.
Yang kamu kira ditolak
sedang diarahkan.
Yang kamu kira hilang
sedang diganti.

Amin.

Baca juga perjalanan saya sebagai penulis asal Sumenep.