Ada hal yang sering kita salah sangka.
Kita mengira budaya itu hanya tari, pakaian, dan upacara.
Padahal budaya adalah cara sebuah masyarakat bernapas—
cara mereka bercanda, marah, berdamai,
dan memuliakan yang tua.
Budaya adalah rasa bersama
yang lama-lama tumbuh menjadi identitas.
Lalu politik datang, membawa panggung.
Bukan selalu untuk merusak—
tapi sering untuk memakai.
Karena budaya itu kuat.
Ia punya akar, punya emosi, punya massa.
Di zaman ketika perhatian adalah mata uang,
budaya menjadi banknya—
tabungan yang bisa dicairkan kapan saja.
Maka budaya pun mulai ditawar:
ditawar jadi slogan,
ditawar jadi atribut,
ditawar jadi latar kampanye.
Seolah cukup memakai kain tradisi,
lalu otomatis paham penderitaan orang kecil.
Seolah cukup menempelkan simbol,
lalu otomatis punya moral.
Di titik ini, kita perlu jujur.
Politik tanpa budaya
adalah mesin tanpa rem—
kencang, bising, dan berbahaya.
Namun budaya tanpa kewaspadaan
bisa menjadi karpet merah—
indah, tapi mengantar siapa saja
masuk ke ruang kuasa.
Karena tidak semua yang memuji budaya
benar-benar mencintainya.
Sebagian hanya tahu satu hal:
budaya itu alat pengikat.
Dan ketika masyarakat sudah terikat,
arahannya tinggal sedikit.
Ada tanda-tandanya.
Pertama, ketika budaya dipersempit jadi kostum.
Nilai dan akhlaknya dibiarkan mati,
yang disisakan hanya tampilan.
Kedua, ketika budaya dipakai untuk membelah:
kita vs mereka,
asli vs pendatang,
tradisi vs “yang tidak sejalan.”
Padahal budaya yang sehat
selalu punya ruang untuk saling belajar.
Ketiga, ketika kritik dianggap penghinaan.
Padahal budaya yang dewasa tidak takut ditanya.
Ia hanya takut dilupakan.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Mulai dari satu sikap kecil:
jangan mudah terbius oleh simbol.
Hormati budaya,
tapi tetap cek perilaku.
Cintai tradisi,
tapi tetap ukur kebijakan.
Karena budaya bukan hanya
apa yang kita warisi—
budaya juga apa yang kita pilih
untuk kita teruskan.
Jika politik ingin meminjam budaya,
biarlah.
Namun budaya harus tetap punya martabat:
tidak jadi topeng,
tidak jadi tiket,
tidak jadi alasan untuk menutup kegagalan.
Pada akhirnya, budaya yang kuat
bukan yang paling sering dipentaskan,
melainkan yang paling sering dipraktikkan:
adab dalam berbeda,
malu saat zalim,
dan berani saat benar.
Dan jika suatu hari politik kembali menawar budaya,
semoga masyarakat tidak menjualnya murah.
Karena harga sebuah identitas
tidak pernah bisa dibayar
dengan janji.
Baca juga perjalanan saya sebagai penulis asal Sumenep.