Belajar sabar dan menerima bukan hal yang mudah.
Sering kali, kita merasa lelah… hanya karena hidup tidak berjalan sesuai harapan.
Belajar Sabar dalam Kehidupan
Selama ini kita mengira,
lelah adalah alasan untuk berhenti.
Padahal tidak selalu begitu.
Di Tanah Suci, aku melihat sesuatu yang berbeda.
Orang-orang berjalan jauh—
dengan kaki yang tak lagi kuat,
tubuh yang mulai renta,
napas yang tersisa setengah.
Namun mereka tetap melangkah.
Tanpa banyak keluhan.
Tanpa banyak suara.
Seolah mereka sudah memahami satu hal penting:
tidak semua lelah harus dikeluhkan.
Ada lelah yang tidak perlu ditangisi,
karena ia hadir bukan untuk melemahkan—
tapi untuk menyadarkan.
Bahwa kita sedang berjuang.
Bahwa kita masih bertahan.
Bahwa kita belum menyerah.
Dan anehnya…
justru di tempat yang paling menguras tenaga itu,
aku melihat ketenangan yang jarang kutemukan di tempat lain.
Bukan karena hidup mereka ringan,
tapi karena hati mereka sudah selesai
dengan banyak hal yang dulu ingin mereka paksa.
Menerima Kenyataan yang Tidak Sesuai Harapan
Mungkin selama ini,
yang membuat kita lelah bukan perjalanan hidup itu sendiri…
melainkan keinginan yang tidak pernah selesai.
Keinginan yang terus meminta,
tanpa pernah benar-benar menerima.
Lelah itu pasti. Tapi tidak semua lelah perlu diberi suara. Kadang… cukup dijalani, cukup diterima, dan perlahan… kita akan sampai.
Tanpa sadar.