Aku mencintaimu.
Aku mencintaimu di bagian yang tidak dilihat orang—
di pikiran yang kacau setelah hari yang panjang,
di dada yang tiba-tiba sesak tanpa sebab,
di saat aku tidak punya apa-apa
selain keinginan untuk tetap bertahan.
Aku mencintaimu bukan saat semuanya mudah.
Aku mencintaimu saat kamu diam,
saat kamu menjauh,
saat kamu tidak tahu cara menjelaskan apa yang kamu rasakan.
Dan aku memilih tidak menuntut,
aku memilih menunggu dengan lembut.
Aku mencintaimu dengan cara yang sederhana:
aku ingin kamu makan tepat waktu,
aku ingin kamu tidur tanpa beban,
aku ingin kamu punya tempat untuk menangis tanpa malu,
aku ingin kamu punya bahu yang tidak bertanya terlalu banyak.
Aku mencintaimu—dan aku takut.
Bukan takut kehilangan,
tapi takut pernah menjadi alasan kamu lelah.
Maka kalau aku kadang salah,
aku mau belajar lagi,
asal kamu tidak menutup pintu.
Aku mencintaimu seperti doa
yang tidak pintar berkata-kata,
tapi selalu datang setiap malam
dengan namamu di ujungnya.
Aku mencintaimu sampai aku mengerti
bahwa cinta bukan tentang memiliki,
tapi tentang menjaga—
biar kamu tetap jadi kamu,
dan tetap baik-baik saja.
Kalau kamu tanya apa yang aku mau,
aku mau kamu selamat,
aku mau kamu tenang,
aku mau kamu merasa aman saat bersamaku.
Aku mencintaimu.
Dan aku tidak minta apa-apa
selain kesempatan untuk terus menjaga.
Baca juga perjalanan saya sebagai penulis asal Sumenep.