Malam ini, Jeddah tidak hanya jadi kota persinggahan. Ia jadi panggung kecil bagi sesuatu yang besar: martabat, cerita, dan doa orang-orang yang menyeberang batas demi keluarga. International Migrants Day (IMD) Jeddah 2025 di Wisma Konjen RI Jeddah baru saja usai—hangat, ramai, dan terasa seperti rumah yang dibuka lebar untuk para perantau. Acara ini memang dijadwalkan ulang ke Jumat, 9 Januari 2026, setelah sebelumnya direncanakan pada 18/19 Desember. Dan jujur saja—kalau ada yang bilang “kok mundur?”, jawabannya sederhana: bukan mundur, bro… ini memberi ruang agar lebih banyak hati bisa hadir.

Secara global, International Migrants Day diperingati setiap 18 Desember, sebagaimana ditetapkan oleh PBB. Tetapi di lapangan, di dunia yang penuh agenda, izin kerja, shift, dan jarak yang sering lebih jauh dari rindu itu sendiri, perayaan kadang perlu menyesuaikan. Maka, IMD Jeddah 2025 hadir pada 9 Januari—dengan nama yang tetap sama, dan makna yang justru terasa makin matang: “Satu Cahaya, Ribuan Kisah: Solidaritas Migran untuk Kemanusiaan.”

Yang terasa paling kuat dari acara ini bukan hanya keramaiannya, tapi pesannya: migran itu bukan angka statistik, bukan “tenaga kerja” yang dibicarakan saat butuh lalu dilupakan saat selesai. Migran adalah manusia—yang punya nama, punya keluarga, punya air mata yang ditahan rapi, dan punya keberanian yang sering tidak terlihat kamera. Di IMD Jeddah 2025, keberanian itu tidak dipajang sebagai drama, tapi dihormati sebagai kehormatan. Kita datang bukan untuk mengasihani, tapi untuk mengakui: mereka adalah bagian dari cahaya Indonesia di luar negeri.

Dan di titik ini, IMD punya tugas “nakal” yang elegan: menampar ego kita pelan-pelan. Karena kadang yang paling cepat menilai bukan petugas imigrasi, tapi komentar manusia. Kadang yang paling rajin menghakimi bukan hukum, tapi bisik-bisik. Maka IMD mengingatkan: kalau kita bisa menghormati bendera, kita juga harus bisa menghormati orang yang membuat bendera itu tetap tegak—dengan kerja, dengan sabar, dengan doa yang tidak diumumkan.

IMD Jeddah 2025 selesai malam ini, tapi ia menyisakan pekerjaan baik yang harus dibawa pulang: memperkuat solidaritas, memperluas dukungan, dan menjaga agar kemanusiaan tidak kalah oleh prasangka. Karena pada akhirnya, yang membuat migrasi terasa aman bukan hanya aturan, tapi adab. Dan yang membuat perantau kuat bukan hanya gaji, tapi rasa dihargai.

 

FAQ:

1.) Apa itu International Migrants Day (IMD)?
IMD adalah Hari Migran Internasional yang diperingati untuk menyorot kontribusi para migran sekaligus mengingatkan pentingnya perlindungan martabat dan hak-hak mereka. Secara resmi, PBB menetapkan peringatannya setiap 18 Desember.

2) Kegiatan IMD di KJRI Jeddah tahun ini dilaksanakan kapan dan di mana?
Untuk IMD Jeddah 2025, kegiatan dilaksanakan pada Jumat, 9 Januari 2026 bertempat di Wisma Konjen RI Jeddah, dengan tema “Satu Cahaya, Ribuan Kisah: Solidaritas Migran untuk Kemanusiaan.”

3) Kenapa acaranya diundur, padahal IMD internasionalnya 18 Desember?
IMD memang jatuh tiap 18 Desember (ketetapan PBB), tetapi kegiatan di lapangan bisa menyesuaikan kesiapan teknis dan agenda komunitas agar pelaksanaannya lebih optimal. Jadi ini bukan “melenceng”, tapi “menjaga mutu”—biar manfaatnya tidak tercecer di jalan.

4) Apakah IMD Jeddah 2025 ini acara resmi?
Iya, ini kegiatan yang digelar di lingkungan KJRI Jeddah (Wisma Konjen), dengan narasi besar tentang solidaritas dan kemanusiaan.

5) Siapa saja yang boleh ikut hadir?
Pada umumnya IMD ditujukan untuk komunitas migran/PMI dan jejaring pendukungnya. Karena acara ini bersifat kegiatan komunitas di KJRI, patokan paling aman adalah mengikuti ketentuan yang diumumkan panitia/kanal resmi KJRI saat publikasi acara.

6) Apakah acara ini berbayar?
Informasi publik yang beredar menekankan ajakan hadir dan meramaikan, tanpa penekanan tiket. Untuk kepastian detail (terutama jika ada kebutuhan registrasi), rujuk info panitia/kanal resmi.

7) Apa tujuan utama tema “Satu Cahaya, Ribuan Kisah”?
Intinya sederhana dan kuat: para migran punya kisah yang beragam, tetapi disatukan oleh satu hal—martabat manusia. Tema ini mengajak semua pihak melihat migran bukan hanya sebagai tenaga kerja, tapi sebagai manusia yang berjuang, berkontribusi, dan layak dihormati.

8) Acaranya sudah selesai—kalau tidak sempat hadir, masih bisa mengikuti bagaimana?
Biasanya dokumentasi, highlight, atau pengumuman lanjutan dibagikan melalui kanal media sosial KJRI/komunitas. Cara paling aman: pantau unggahan resmi yang memuat rangkuman kegiatan dan foto/video.

9) Apakah ada kontak yang bisa dihubungi untuk info kegiatan?
Di informasi yang beredar di kanal publik komunitas, tercantum nomor kontak untuk koordinasi. Jika kamu ingin, aku bisa masukkan nomor itu di FAQ artikelmu sebagai “hotline panitia” (sesuai yang sudah tersebar), atau kita tulis versi aman: “hubungi panitia melalui kanal pengumuman.”

10) Apa pesan utama yang ingin dibawa pulang dari IMD ini?
Bahwa migrasi itu bukan “cerita jauh” milik orang lain. Ia ada di sekitar kita—dan ukurannya bukan seberapa ramai panggungnya, tapi seberapa kuat kita menjaga adab: menghormati, melindungi, dan merangkul sesama perantau sebagai saudara.