Ada orang pergi jauh karena rezeki. Ada yang karena amanah. Ada yang karena keadaan yang tidak memberi pilihan lain. Dan di antara semua yang ikut “berangkat”, ada satu penumpang gelap yang paling hobi nimbrung: ego. Ia tidak butuh visa, tidak perlu tiket, dan sering duduk paling depan—padahal tidak diundang.

Perantauan itu bukan hanya pindah negara. Ia juga pindah kebiasaan, pindah cara bertahan, pindah cara menelan rindu tanpa banyak suara. Di tanah orang, kita belajar satu ilmu yang jarang ditulis di poster motivasi: kita bisa kuat tanpa harus keras. Kita bisa tegas tanpa harus merendahkan. Kita bisa lelah tanpa harus menyalahkan.

Allah mengajarkan bahwa manusia memang diciptakan beragam, agar kita tidak sibuk merasa paling tinggi. Yang paling mulia bukan yang paling lantang, tapi yang paling bertakwa—yang paling rapi menjaga adabnya, paling jujur ikhtiarnya, paling bersih niatnya.

اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
“Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kalau kamu perantau, kamu pasti paham: rezeki itu bukan selalu tentang angka yang masuk. Kadang rezeki itu berupa teman yang baik, atasan yang adil, tubuh yang masih sehat, dan keluarga yang masih bisa kamu kabari. Rezeki itu juga berupa dijaga dari dosa yang bikin hati mati pelan-pelan. Karena tidak semua orang kalah karena miskin; banyak yang tumbang karena merasa paling benar.

Di sinilah adab jadi ibadah yang diam-diam mahal. Adab saat bicara. Adab saat bercanda. Adab saat diberi amanah. Adab saat marah. Bahkan adab saat menang—karena kemenangan sering membuat orang lupa bahwa yang memberi napas saja bukan kita.

Dan ketika rasa asing datang, ketika rindu menumpuk, ketika hidup terasa seperti berjalan sambil mengangkat koper batin, Allah membuka satu pintu yang tidak butuh antrian: doa. Bukan doa yang ribut, bukan doa yang dipamerkan. Doa yang sederhana, tapi jujur.

وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِي الْاَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya dia akan mendapati di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (QS. An-Nisa: 100)

Hijrah di ayat itu bukan hanya pindah kota. Ia juga pindah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik. Pindah dari dendam menuju lapang. Pindah dari sombong menuju syukur. Pindah dari “aku paling benar” menuju “ya Allah, ajari aku benar-benar baik.”

Kalau kamu mau “tamparan halus” yang tetap sopan: kadang kita rajin menuntut dunia menghormati kita, tapi kita sendiri belum selesai menghormati orang lain. Kadang kita ingin dimengerti, tapi kita malas mengerti. Ego memang cerdas—dia suka menyamar jadi prinsip, padahal yang dia cari hanya panggung.

Maka, hari ini, kalau kamu sedang jauh dari rumah, simpan satu kalimat ini baik-baik: Allah tidak menyia-nyiakan langkah yang diniatkan lurus. Kamu mungkin tidak selalu kuat, tapi kamu selalu punya jalan kembali: kembali ke adab, kembali ke doa, kembali ke Allah.

Dan kalau besok hatimu terasa berat, jangan membenci dirimu. Istirahat itu boleh. Menangis itu manusiawi. Yang penting, jangan jadikan lelah sebagai alasan untuk kasar. Karena orang yang paling kuat bukan yang paling keras suaranya—tapi yang paling bisa menjaga akhlaknya saat hatinya sedang tidak baik-baik saja.


FAQ

1) Apa pelajaran utama dari hidup merantau dalam perspektif religi?
Pelajaran paling besar adalah menjaga niat, adab, dan kejujuran ikhtiar. Jauh dari rumah sering membuat kita lebih sadar bahwa yang menenangkan bukan keramaian, tapi kedekatan kepada Allah.

2) Bagaimana cara mengalahkan ego yang sering muncul di perantauan?
Mulai dari hal kecil: menahan komentar yang merendahkan, memperbanyak syukur, dan membiasakan meminta maaf. Ego melemah ketika kita belajar melihat orang lain sebagai saudara, bukan saingan.

3) Doa apa yang paling penting untuk perantau?
Doa yang paling penting adalah doa yang paling jujur: minta dijaga iman, dijaga akhlak, dan dilapangkan rezeki yang halal. Doa tidak harus panjang; yang penting hati hadir.

4) Apa hubungan adab dengan rezeki?
Adab menjaga rezeki tetap berkah. Banyak pintu terbuka karena akhlak baik, dan banyak pintu tertutup karena lisan yang tidak dijaga.