Hari ini saya merilis rabitalk.
Di tengah begitu banyak aplikasi komunikasi yang sudah lebih dahulu hadir, pertanyaan paling masuk akal mungkin sederhana:
Mengapa membuat satu lagi?
Jawabannya bukan karena dunia kekurangan aplikasi.
Justru karena saya melihat kita mempunyai semakin banyak cara untuk berkomunikasi, tetapi komunikasi itu sendiri sering terasa semakin terpecah.
Untuk berbicara kita membuka satu tempat. Ketika perlu rapat, berpindah lagi. Ketika ingin berbagi sesuatu, ada ruang lain yang harus dibuka.
Teknologinya semakin banyak.
Tetapi jalan menuju satu sama lain kadang justru semakin panjang.
Dari kegelisahan kecil itulah rabitalk mulai saya bangun.
Sebuah Nama tentang Ikatan dan Percakapan
Nama rabitalk lahir dari dua kata yang berasal dari dua bahasa.
Yang pertama adalah rabithah, dari bahasa Arab, yang membawa makna tali, ikatan, atau sesuatu yang menghubungkan.
Yang kedua adalah talk, dari bahasa Inggris: berbicara.
Saya mempertemukan keduanya menjadi:
rabitalk.
Bagi saya, nama itu membawa satu gagasan yang sangat sederhana:
percakapan seharusnya menguatkan ikatan.
Sebab di balik setiap layar selalu ada manusia.
Ada keluarga yang berjauhan.
Ada sahabat yang ingin bertukar kabar.
Ada tim yang perlu berkoordinasi.
Ada komunitas yang membutuhkan ruang untuk berbicara bersama.
Dan terkadang ada seseorang yang hanya ingin memastikan bahwa suara di ujung sana masih bisa didengar.
Teknologi komunikasi menemukan nilainya bukan ketika ia terlihat canggih.
Tetapi ketika ia berhasil mendekatkan manusia.
Saya Ingin Komunikasi Terasa Lebih Sederhana
Sejak awal, saya tidak ingin rabitalk tumbuh menjadi aplikasi yang sibuk menunjukkan betapa banyak hal yang mampu dilakukannya.
Saya justru ingin pengguna semakin sedikit memikirkan aplikasinya.
Ketika ingin menulis, menulislah.
Ketika ingin mendengar suara, lakukan panggilan.
Ketika perlu bertatap muka, buka video.
Ketika beberapa orang perlu berbicara bersama, masuklah ke ruang rapat.
Tidak perlu terlalu banyak jalan memutar.
Tidak perlu setiap bentuk komunikasi membawa kita ke tempat yang berbeda.
Teknologi seharusnya bekerja di belakang layar.
Yang berada di depan tetaplah manusia.
Karena Komunikasi Tidak Selalu Hanya Dua Orang
Dalam banyak kegiatan yang saya jalani, saya semakin menyadari bahwa komunikasi jarang berhenti pada percakapan pribadi.
Ada koordinasi.
Ada briefing.
Ada pekerjaan.
Ada komunitas.
Ada keluarga.
Ada keadaan ketika sebuah pesan tidak lagi cukup dan beberapa orang perlu berada dalam satu ruang pada waktu yang sama.
Itulah sebabnya sejak awal saya tidak ingin rabitalk berhenti sebagai aplikasi percakapan biasa.
Percakapan, panggilan, berbagi cerita, sampai rapat daring dapat hidup di dalam lingkungan yang sama.
Bukan supaya rabitalk terlihat penuh fitur.
Justru supaya pengguna tidak perlu terus berpindah tempat ketika kebutuhan komunikasinya berubah.
Bagi saya, teknologi yang baik bukan yang menambah sebanyak mungkin pintu.
Kadang teknologi yang baik justru mengurangi pintu yang perlu kita lewati.
Kesederhanaan Bukan Berarti Kekurangan
Ada satu prinsip yang terus saya pegang selama mengembangkan rabitalk:
kalau sesuatu bisa dibuat lebih sederhana, jangan dibuat lebih rumit.
Saya lebih tertarik menghilangkan satu langkah daripada menambahkan tiga tombol.
Lebih memilih layar yang tenang daripada memenuhi setiap sudut dengan informasi.
Lebih menyukai tanda kecil yang langsung dipahami daripada penjelasan yang harus dibaca berulang kali.
Karena aplikasi komunikasi seharusnya perlahan menghilang ketika sedang digunakan.
Kita tidak membuka rabitalk untuk memikirkan rabitalk.
Kita membukanya karena ada seseorang yang ingin kita hubungi.
Dibangun dari Pertanyaan yang Sederhana
Selama proses pengembangannya, saya berkali-kali kembali pada satu pertanyaan:
Apakah ini membuat orang lebih mudah terhubung?
Jika jawabannya iya, ia layak dipertahankan.
Kalau sebuah proses terasa panjang, saya mencoba memendekkannya.
Kalau sebuah informasi tidak perlu selalu terlihat, saya mencoba menyembunyikannya sampai benar-benar dibutuhkan.
Kalau beberapa kebutuhan komunikasi dapat berada dalam satu ruang tanpa membuat orang bingung, saya mencoba menyatukannya.
Saya tidak ingin rabitalk berkembang hanya karena mengejar daftar fitur.
Saya ingin ia tumbuh dari kebutuhan yang benar-benar ditemukan dalam penggunaan.
Ikatan Itu yang Ingin Dijaga
Semakin lama mengembangkan rabitalk, semakin saya merasa bahwa nama yang dipilih sejak awal justru semakin menjelaskan arahnya.
rabithah.
Ikatan.
talk.
Percakapan.
Dua kata dari dua bahasa yang bertemu pada satu maksud.
Manusia membangun banyak ikatan melalui percakapan.
Kita mengenal seseorang karena pernah berbicara dengannya.
Menjaga persahabatan dengan bertukar kabar.
Menyelesaikan persoalan melalui dialog.
Menggerakkan sebuah pekerjaan melalui koordinasi.
Menjaga keluarga yang berjauhan dengan suara.
Dan terkadang sebuah hubungan tetap hangat hanya karena masih ada seseorang yang bertanya:
“Apa kabar?”
Ruang itulah yang ingin saya isi dengan rabitalk.
Ini Baru Awal
Saya tidak menganggap rabitalk sudah selesai.
Hari ini hanyalah sebuah titik ketika ia cukup matang untuk mulai digunakan lebih luas.
Setelah ini pasti akan ditemukan kekurangan.
Akan ada kebiasaan pengguna yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Ada bagian yang mungkin perlu dipangkas.
Ada pula yang suatu hari harus dibangun ulang.
Dan saya tidak keberatan dengan itu.
Karena sebuah produk yang hidup seharusnya bertumbuh bersama orang-orang yang menggunakannya.
Saya tidak ingin rabitalk menjadi berarti karena mempunyai daftar fitur yang panjang.
Saya ingin ia menjadi berguna karena mampu membuat komunikasi terasa lebih dekat, lebih ringan, dan lebih manusiawi.
Mulai Menggunakan rabitalk
Bagi yang ingin melihat atau mulai menggunakan rabitalk, aplikasinya sudah dapat diakses melalui:
Tidak perlu banyak pengantar.
Buka, buat akun, temukan orang yang ingin dihubungi, lalu mulailah berbicara.
Teknologi di belakangnya mungkin akan terus berkembang dan semakin rumit.
Namun di depan pengguna, harapan saya tetap sama:
cukup buka, temukan orangnya, lalu berbicaralah.
Karena pada akhirnya, rabitalk lahir dari gagasan yang sangat sederhana.
Tentang ikatan.
Tentang percakapan.
Dan tentang bagaimana keduanya dapat membuat manusia tetap terhubung.
