Makna lempar jumrah bukan cuma ritual haji di Mina. Ini latihan nyata menundukkan ego, menolak bisikan setan, dan pulang sebagai manusia baru—tenang, jernih, dan lebih dekat pada Allah.
Pembuka
Ada momen dalam haji yang kelihatannya “kecil”, tapi efeknya bisa bikin hati gemetar. Kita ambil kerikil. Kita berjalan di Mina. Lalu kita lempar—bukan untuk melukai siapa pun, tapi untuk melukai satu musuh yang paling sering menang tanpa kita sadari: ego yang merasa paling benar.
Kalau hidup ini panggung, ego itu sutradara yang suka nyelip di balik layar. Dia bisikkan kalimat manis: “Kamu yang paling paham.” Dia tepuk pundak kita pelan: “Yang lain saja yang salah.” Dan lucunya, ego bisa terlihat sangat religius. Rapih. Wangi. Tapi suka menyamar jadi “pembela kebenaran”, padahal diam-diam sedang membesarkan diri.
Di situlah lempar jumrah jadi latihan yang jujur. Bukan latihan tangan. Tapi latihan hati.
Apa Itu Lempar Jumrah
Lempar jumrah adalah salah satu rangkaian ibadah haji di Mina, dengan melempar kerikil ke tiga jamarat: Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah, pada hari-hari tertentu (termasuk hari Nahr dan أيام التشريق). Secara fikih, ini ibadah yang punya aturan. Secara batin, ini pengingat: kita sedang menyatakan perang pada godaan, kesombongan, dan bisikan yang membuat kita menjauh.
Dan ya, di sinilah lucunya: kita melempar batu kecil… untuk melawan masalah yang seringnya segede gunung.
Kenapa Yang Dilempar Itu Kerikil, Bukan Batu Besar
Karena setan tidak selalu datang dengan wajah seram. Kadang datang sebagai “alasan yang masuk akal”. Kadang datang sebagai “canda yang kelewat”. Kadang datang sebagai “pembenaran yang rapi”.
Kerikil itu simbol. Godaan itu sering kecil di awal. Kita menganggapnya remeh. Tapi kalau dibiarkan, kecil itu jadi kebiasaan. Kebiasaan jadi karakter. Karakter jadi takdir yang kita tangisi sendiri.
Jadi, lempar kerikil itu seperti bilang: “Aku tidak akan menunggu sampai ini jadi besar.”
Makna Jumrah yang Paling Menampar Ego
Ada orang mengira jumrah itu sekadar gerakan fisik. Maaf—bukan “sekedar”. Ini hanya terlihat seperti gerakan fisik. Padahal kalau kita jujur, yang sesungguhnya dilempar itu bukan kerikil, tapi:
1) Kesombongan yang halus
Yang suka membuat kita merasa lebih suci dari orang lain. Padahal yang Allah cari bukan pamer, tapi hati yang tunduk.
2) Pembenaran yang licin
Kita bisa salah, tapi ahli berdalih. Kita bisa menyakiti, tapi pintar menyebutnya “tegas”. Lempar jumrah mengajak kita berhenti mengelus dosa dengan kata-kata cantik.
3) Nafsu menang debat
Ada yang ibadahnya rajin, tapi hatinya selalu ingin menang. Menang argumen. Menang panggung. Menang pengaruh. Padahal kadang kemenangan terbaik itu: diam, lalu memperbaiki diri.
4) Iri yang berkedok doa
“Kok beliau mudah ya?” lalu hati kita jadi asam. Jumrah mengingatkan: rezeki orang bukan ancaman buat kita. Itu ujian untuk hati kita.
5) Dendam yang kita pelihara
Dendam itu seperti menggenggam bara. Yang terbakar duluan… telapak kita sendiri. Lempar jumrah itu latihan melepas, bukan karena orang lain layak dimaafkan, tapi karena kita ingin layak dipeluk ampunan.
Jumrah dan Kisah Nabi Ibrahim
Rangkaian haji selalu membawa kita kembali pada jejak Nabi Ibrahim dan keluarganya—jejak kepasrahan yang tidak teatrikal, tapi total. Di banyak penjelasan ulama, lempar jumrah dipahami sebagai simbol penolakan terhadap godaan setan. Seolah hati berkata: “Aku memilih taat, meski berat.”
Dan kita diingatkan bahwa pertempuran terbesar manusia sering bukan di luar, tapi di dalam.
(ٱلشَّيْطَـٰنُ عَدُوٌّ لَّكُمْ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّا)
Setan adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh. (QS. Fathir: 6)
Cara Membawa “Jumrah” Pulang ke Rumah
Ini bagian yang sering hilang: setelah pulang, apa yang berubah?
Coba bawa jumrah ke keseharian, dalam bentuk yang sederhana tapi nyata:
• Lempar “aku duluan” saat sedang konflik. Ganti dengan “kita cari baiknya bareng.”
• Lempar kebiasaan meremehkan orang lain. Ganti dengan menghargai proses mereka.
• Lempar kebutuhan dipuji. Ganti dengan cukup Allah yang tahu.
• Lempar komentar pedas yang kita sebut “jujur”. Kejujuran tidak harus melukai.
• Lempar kebiasaan menunda taubat. Karena kita tidak pernah tahu kapan pintu itu diketuk terakhir kali.
Kalau jumrah kita berhasil, pulang haji bukan hanya pulang fisik. Tapi pulang batin. Pulang sebagai manusia yang lebih lembut, lebih jernih, dan lebih takut menyakiti.
Penutup
Jumrah mengajari kita satu hal yang sederhana tapi mahal: hidup ini bukan tentang menang melawan orang lain. Hidup ini tentang menang melawan diri sendiri—yang sering pintar menyamar jadi “kebaikan”, padahal hanya ingin diakui.
Kita lempar kerikil itu, dan semoga Allah menerima. Lalu kita pulang, membawa satu keputusan yang paling penting: ego bukan imam. Allah-lah Tujuan.
Kalau hati masih sering panas, ingat Mina. Ingat jamarat. Ingat kerikil. Kadang yang kita butuhkan bukan banyak pembelaan… tapi satu lemparan jujur ke dalam diri.
FAQ
1) Lempar jumrah itu apa?
Lempar jumrah adalah ibadah haji di Mina dengan melempar kerikil ke jamarat pada waktu tertentu, sebagai bagian dari manasik haji yang mengikuti tuntunan syariat.
2) Apa makna lempar jumrah dalam Islam?
Maknanya adalah simbol penolakan terhadap godaan setan dan latihan menundukkan ego, nafsu, serta bisikan yang menjauhkan dari ketaatan.
3) Jumrah ada berapa dan apa saja?
Ada tiga: Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah, yang dilempar pada hari-hari tertentu dalam rangkaian haji.
4) Kenapa yang digunakan kerikil, bukan batu besar?
Kerikil melambangkan bahwa godaan sering kecil di awal. Jika diremehkan, ia bisa membesar menjadi kebiasaan dan merusak hati.
5) Bagaimana membawa pelajaran jumrah ke kehidupan sehari-hari?
Dengan melawan ego: berhenti merasa paling benar, menahan lisan, cepat meminta maaf, mengurangi pamer kebaikan, dan konsisten taat meski tidak dilihat manusia.